saat daun-daun gugur…

bagi yang terlanjur melampaui batas…
janganlah berputus asa!

Ada satu keinginan kecil yang mengorbit dalam hati. Sekiranya keinginan itu bolehlah disandingkan intensitasnya dengan kerinduan untuk bisa hadir di tanah suci, kadarnya mungkin bisa menyamai. Keinginan yang perlahan mulai menghadirkan kuncup kecil obsesi itu adalah: menyaksikan satu episode musim gugur di salah satu negeri!

Di negeri manakah tepatnya? Syarat pertamanya jelas.Negeri itu adalah negeri yang mesti disinggahi oleh empat musim; semi, panas, gugur, dan kemudian dingin. Adalah konyol rasanya, jika ingin melihat musim gugur yang menawan malah mendatangi negeri yang mempunyai iklim sahara. Dan diantara sederetan negeri dengan empat musim itu, entah kenapa, Kanada-lah yang terbersit pertama.

Menjadikan Kanada sebagai pilihan tentunya bukan tanpa alasan. Meski terkesan sentimentil, sebenarnya alasan itu sederhana saja, bahkan mungkin terasa kekanakan.

Karena benderanya!
Karena benderanya? Yap! Sebab tampaknya hanya Kanada, yang menempatkan citra daun maple ke dalam desain benderanya. Kebetulan pula, di hampir semua gambar atau foto-foto yang menangkap citra musim gugur, kehadiran daun maple hampir tak bisa dipungkiri. Ditambah lagi, Kanada mempunyai sepuluh spesies pohon maple yang tumbuh alami. Fakta lain menyatakan bahwa paling tidak satu spesies pohon maple tumbuh dengan alami di setiap propinsinya. Dan sepanjang kita cenderung untuk memamerkan sesuatu yang membuat kita terkesima atau membanggakan, maka rasanya wajar jika memilih Kanada sebagai pilihan. Karena kalau tak sampai membuat terkesima dan membanggakan, tentunya George F. G. Stanley tak pernah selintas pun mempertimbangkan daun maple itu saat merancang desain bendera Kanada.

Bagi mata yang terbiasa terpapar dengan warna hijau dedaunan, karena sepanjang hidup tinggal di negeri beriklim tropis, menyaksikan pemandangan musim gugur bisa menjadi satu obsesi dalam hati. Saat chlorophyll alias zat hijau daun mengalunkan warna hijau dedaunan sepanjang musim semi sampai musim panas, musim gugur adalah saatnya ia beristirahat sejenak untuk kemudian mempersilakan carotenoid serta antocyanin naik pentas mengalunkan nada-nada. Maka tersajilah dihadapan mata parade daun-daun yang berubah warna, dari hijau menjadi kuning keemasan, coklat, dan beberapa diantaranya merah, menampilkan satu orkestra warna-warna yang tampak luar biasa!

Merona di dahan, lalu perlahan layu dan lepas dari tangkainya, gugur melayang meluncur meliuk-liuk untuk kemudian rebah ke tanah. Pemandangan yang menakjubkan dan sungguh ekstatik ini, terasa sekali mengajak ingatan untuk berlari kepada kenangan akan dosa-dosa. Sebegitukah kira-kira, Tuhan memperlakukan dosa-dosa?

“Katakanlah, “Wahai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sungguh, Dialah yang Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Sekiranya masih saja terasa galau dan gelisah jiwa karena rimbunnya dosa-dosa, adakah terasa asa yang menguncup, setelah merenungkan ayat di atas? Dan bagi yang dalam waktu dekat sudah mempunyai rencana untuk melampaui batas dengan berbuat dosa, apakah ada terasa rasa malu yang perlahan mengusik dan mulai menggugat?


Sungguh, melihat orkestra warna musim gugur, perlahan terasa dan akan semakin terasa sapuan kuas ampunan, yang membelai menyentuh dengan penuh kasih sayang, hingga merona dedaunan! Daun-daun yang merona, kemudian menggigil karenanya. Hingga tak butuh lagi jeda yang lama untuk kemudian bergetar dan terjatuh dalam cinta!

melihat parade musim gugur,
merasakan sapuan kuas ampunan
membelai
menyentuh
dengan kasih sayang penuh…
maka jiwa siapakah yang takkan merona?

jiwa
siapa
yang tak menggigil
yang tak tergetar
yang tak jatuh cinta?

duhai Tuhan,
bagaimana mungkin aku tak malu
karena belaian ampunanMu
jiwa merona
dan dosa-dosa luruh
satu-satu…

Tuhan
aku malu
tidakkah kau lihat
rona itu?

Tuhan,
ampuni aku!

Jogja, 25 november 2009

Advertisements

~ by ksatriapelangi on November 27, 2009.

2 Responses to “saat daun-daun gugur…”

  1. sungguh gaya penulisan yang tidak biasa
    khas pak zulhy 🙂
    btw, mbok ya sering-sering blog walking pak
    biar namanya jadi ngetop!

  2. […] saat daun-daun gugur… November 2009 1 comment 4 […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: