memelukmu, merindumu…

•September 18, 2009 • Leave a Comment

sujud14

subuh ini
terasa mendung
dan dingin

dan ramadhan
yang makin merenggangkan
pelukan

membuat
yang biasanya nekat dan nakal
mulai merencanakan perselingkuhan

dan yang biasa
tunduk dan khusyu
makin kuat memeluk

karna sayatan sembilu rindu
menitikkan tangis haru

29 ramadhan 1430

Advertisements

titipkan cinta

•September 13, 2009 • Leave a Comment

nebula heart

karna hanya
hati
yang bisa menampung
Tuhan

kepadanya
kutitipkan
cinta…

yang terasa berat
kalau diungkapkan!

21 ramadhan 1430

Illustrasi foto : http://apod.gsfc.nasa.gov/apod/ap061003.html

cakrawala anak kita

•September 6, 2009 • 1 Comment

childinbox

cobalah ingat,
semampunya
masa kanak-kanak
yang tergores di ingatan

karna sungguh
menakjubkan…
apa yang bisa anak-anak lakukan!

***

Pada awalnya sih saya ragu, untuk menuliskannya. Sebab kok terasa narsis atau mungkin terkesan pamer diri. Dan semenjak blog ataupun situs-situs macam Facebook, YouTube atau yang lain begitu amat populer, rasanya pintu untuk berperilaku narsis tampak terbuka lebar-lebar.

Menurut saya yang awam, sebenarnya narsis atau pamer diri itu muncul karena kita menghambat dan membelokkan laju aliran pujian. Pujian seharusnya dialirkan dan tak boleh dihentikan sampai dia menuju ke tempat pemberhentian terakhirnya, yakni ke hadirat Tuhan. Kalau Anda memuji saya dan lantas saya merasa hebat, dan kemudian Anda pun memandang saya sebagai orang hebat, maka kita berdua mesti bersiap-siap berhadapan dan berurusan dengan Tuhan. Kita berdua punya masalah di sini. Masalah saya adalah menahan dan merebut hak Tuhan atas pujian. Sedangkan masalah Anda adalah membuat Tuhan mempunyai saingan dalam mendapatkan pujian.

Memang, kalau mau main aman sih, kita sebaiknya tidak perlu menceritakan kehebatan dan kehebohan kita. Akan tetapi ada saat dimana kebaikan kita bisa diceritakan semata-mata untuk menginspirasi dan membikin hidup kebaikan itu sendiri. Coba saja kalau tak ada orang yang bercerita soal sedekah yang dilakukannya beserta sejumlah ganjaran kebaikan yang bisa didapatkannya dari sedekah itu, maka perintah dan janji Tuhan tentang sedekah rasanya seperti pepesan kosong belaka.

Dan biasanya setelah ada contoh, kita terasa mudah untuk digerakkan

***

Ini cerita soal saya dan keponakan saya.
Ini adalah tahun kedua dia berkenalan dengan puasa. Pada tahun lalu, dia hanya sempat bersentuhan dengan hura-hura atau glamournya puasa, seperti pura-pura ikut tarawih anak-anak dan ceria saat mendapat jaburan (jaburan adalah hidangan yang biasa dibagikan pasca tarawih dilaksanakan), ikut menikmati berbuka puasa, sempat menikmati gemerlap kembang api, dan dibelikan lampion pada hari menjelang takbiran.

Tapi di Ramadhan 1430 ini, keponakan saya diberi kesempatan bersentuhan dengan getirnya puasa.
Hari pertama ia berbuka pada jam 10 dan bakda asar. Hari kedua lumayan, ia berbuka sekali saja pada dzuhur dan puasanya disambung sampai maghrib tiba. Hari ketiga ia hampir saja tuntaskan puasanya. Namun neneknya tak cukup tega membiarkannya untuk kemudian memaksanya berbuka pada bakda asar.

Dan mulai di hari keempat dan seterusnya, meski badan dan terutama wajahnya terlihat kuyu setiap bakda asar tiba, alhamdulillah, puasanya tuntas sampai magrib tiba!

***

Bulan Agustus 2009 lalu, ia baru saja merayakan ulang tahun keempatnya.
Dan di akhir Agusutus, ia sudah memulai debut puasa penuhnya!

Saya masih susah menerima.
Saya pun memulai debut puasa sehari penuh sejak kanak-kanak. Tapi ‘maqam’ itu baru bisa saya raih saat saya berusia 8 tahun. Dan saat berlatih puasa dulu, saya tidak bisa cukup disiplin untuk menyambung puasa. (Maksudnya jika saya berbuka saat dzuhur, bisa dipastikan ada ritual mencuri-curi makan atau minum sampai saat maghrib tiba. )

Keponakan saya cuma butuh 3 hari untuk berlatih, sedangkan saya mulai berkenalan dengan puasa seingat saya di usia 6 tahun, dan baru bisa berpuasa penuh saat 8 tahun!

Apa yang dialami keponakan saya ini menggelisahkan saya.
Yah, mungkin karena malu jika membandingkan prestasi puasanya dengan prestasi puasa saya. Tapi lebih dari itu, tidakkah kita melihat sesuatu yang dahsyat di sini?

Anak-anak mencontoh kita,
dan kemudian menyempurnakannya!

***

Kalau anak-anak menjelma menjadi anak-anak dengan sejuta prestasi kebaikan,
siapa yang layak dan bersedia untuk ‘disalahkan’?

Kalau anak-anak lebih suka mementaskan peran keburukan,
dari mana ia belajar berperan?

Dan sepanjang kita bisa memberi,
apa yang bisa dan telah kita berikan
kepada anak-anak kita?

***

cobalah ingat,
semampunya
masa kanak-kanak
yang tergores di ingatan

karna sungguh
menakjubkan…
apa yang bisa anak-anak lakukan!

kita adalah cakrawala
untuk anak-anak kita meluaskan pandangannya…
dan meski cakrawala adalah batas,
cakrawala terasa luas dan meluaskan!

(16 ramadhan 1430
saat asar tiba!)

pas banget…

•September 3, 2009 • 1 Comment

sedekah
Madinah, 1995, menjelang pukul 3 dini hari
: persiapan keberangkatan

Salah seorang anggota kafilah haji Indonesia tahun 1995 mempersiapkan keberangkatannya menuju Masjid Nabawi, Madinah al Munawarroh. Setelah berpakaian pantas, tak lupa ia masukkan bekal uang 50 riyal ke dalam sakunya. Ia punya niatan untuk belanja suvenir atau pernak-pernik lain yang bisa dibawanya pulang sebagai cindera mata.

Masjid Nabawi, Medinah
: lokasi kejadian

Masjid Nabawi saat itu baru dibuka kembali. Masjid ini biasa ditutup pukul 10 dan dibuka kembali pada pukul 3 dini hari waktu setempat. Masjid ini sangat besar dan megah! Dan yang membuat masjid ini sangat istimewa adalah karena di dalam masjid ini terdapat makam Rasulullah Muhammad SAW ! Setelah masuk melalui salah satu pintu masjid, sang calon haji melakukan beberapa sesi peribadatan sebagai pengisi waktu subuh yang masih cukup lama. Hingga sampailah waktu shalat subuh tiba, dan ia shalat berjamaah. Setelah sholat subuh usai, ia bersiap untuk melakukan beberapa ritual pagi yang biasa ia lakukan: membeli segelas kopi susu dan 3 helai roti cane di satu warung orang India yang ada di selatan Masjid Nabawi.

Dalam langkahnya menuju warung itu, ia selalu menyempatkan untuk singgah di makam Rasulullah dan memanjatkan doa di sana. Entah kenapa, kehadiran Nabi sangat begitu terasa di dalam masjid yang luar biasa megah itu!

di depan Makam Nabi
: kekagetan dimulai!

Sulit membayangkan, kalau itu adalah sebuah makam. Calon haji ini selalu membayangkan makam itu adalah rumah Nabi (karena sesungguhnya lokasi makam itu dahulu adalah benar-benar rumah yang dihuni rasul mulia itu!). Sangat terasa sekali kalau penghuni rumah itu sedang duduk, menerima dan membalas salam dari setiap jamaah yang hadir di masjid itu.

Maka ia pun berdiri di depan makam Nabi, berucap shalawat dan salam, serta memanjatkan doa…

Tak seberapa lama ia usai memanjatkan doa, dari depan datang seorang laki-laki, berkopiah putih, berwajah santun, berpakaian bersih-rapi.

“Sedekah 50 riyal…”, demikian lelaki itu berkata sambil menengadahkan tangannya.

Sang haji yang pada pagi itu sudah bersiap-siap melaksanakan rencana sempurna yang telah dirancangnya, tiba-tiba menemui peperangan batin di dalam hatinya!

***

(Pernahkah mengalami kejadian seperti ini? Sejumlah uang telah dipersiapkan dan rencana belanja dengan uang itu pun telah di desain dengan cermat. Kita pun sudah membayangkan apa yang terjadi andaikata rencana kita berjalan dengan lancar. Tapi kemudian tiba-tiba hadir seseorang yang meminta dengan tepat, setepat-tepatnya, jumlah uang yang telah kita persiapkan sebelumnya itu?

Kalau pernah mengalami, tentunya kita akan mudah berempati dengan sang calon haji.
Dan perasaan getir yang tertoreh akibat ‘pertempuran batin’ yang terjadi tentu akan dengan mudah dibangkitkan dari memori. )

***

di depan makam Nabi
: peperangan dimulai!

Ia masih tepekur dan setengah kaget.
50 riyal!

Itu bukan jumlah yang sedikit dan si pengemis sialan itu kenapa bisa dengan tepatnya meminta sejumlah uang riyal yang ia bawa? Padahal ia telah merencanakan sesuatu dengan 50 riyal yang ia bawa itu. Haruskah permintaan si pengemis ini dituruti?

Kalau dengan hukum fiqh standar, bisa saja permintaan si pengemis tidak dikabulkan. Lagipula sudah bukan rahasia lagi kalau pada musim haji seperti itu akan muncul banyak sekali pengemis yang berusaha memanfaatkan kemurahan hati para haji. Persis dengan di wilayah tempat tinggalnya yang rutin didatangi sindikat pengemis, yang biasa beroperasi pada hari jumat tiap minggunya.

Tapi ini adalah wilayah tanah suci, yang memungkinkan pertemuan yang ruhani dengan yang materi. Beberapa hikayat bahkan bilang malaikat bisa menjelma menjadi apa saja untuk menguji keimanan kita…

Mungkinkah pengemis itu adalah jelmaan malaikat?
Atau hanya seseorang yang berada di tempat dan waktu yang tepat?
Dan kalau melihat tampangnya yang klimis, rasanya aneh kalau ia itu seorang pengemis!

masih di depan makam Nabi
: pertempuran selesai!

Rencana semula mesti dijalankan, dan tak seorangpun yang bisa menghalanginya!
Bahkan oleh si pengemis yang sekarang ada di hadapannya!

Tapi entah kenapa, bayangan seseorang yang ada di balik makam menggoyahkan lagi keteguhannya.
Pribadi yang amat santun dan penuh cinta, miskin tapi kaya hati, dan bahkan terkadang biasa menahan lapar sampai tiga hari, seolah-olah tersenyum kepadanya dari balik bilik makam yang ada di hadapannya.

Ia luluh dan dan dengan kuyu menyerahkan 50 riyalnya itu kepada si pengemis!
Sepanjang perjalanan pulang, sang haji hanya bisa menatap barang dagangan yang ingin ia beli dengan uangnya. Sorot mata dan teriakan pedagang yang menawarkan dagangan mengantarkannya kepada kesunyian. Ia masih merasa berat kehilangan 50 riyal dan himpitan masih ia rasakan di dadanya.

Ia berjalan gontai, dengan langkah kaki yang setengah diseret.
Ia mungkin masih menyesali keputusannya, dan meski tertatih-tatih,
ia telah keluar dari peperangan yang boleh jadi telah ia menangkan!

Siapa mau?

13 ramadhan 1430
(bahkan rasanya sekarang masih sulit untuk percaya, saat itu bisa menjadi satu anggota kafilah haji Indonesia tahun 1995!)

single parent

•August 28, 2009 • 2 Comments

children
“Tanya Google aja kalo ndak tau…”, demikian kata temen saya yang biasa online. Bahkan konon, sekarang kalo kita bilang “googling”, orang-orang sudah banyak yang paham apa makna kata itu dan “googling” sendiri kabarnya sudah masuk vocabulary atau perbendaharaan kata dari bahasa Inggris.

Jadi kalau saya menulis atau bilang “single parent”, tentunya akan amat mudah untuk mencari informasi yang bisa membuat kita paham apa maksud dari kata itu. Dan kalo hari gini tetap masih belum mengerti apa “single parent” itu, googling please!

Single parent, atau orang tua tunggal, sudah saya dapatkan pengertiannya sejak lama. Namun tampaknya, ada jarak yang cukup jauh yang signifikan antara kata “mengerti” dan “memahami”. Bagi saya yang awam, pengertian adalah semata-mata hanya memasukkan definisi tentang sesuatu ke dalam keranjang memori, sehingga pada suatu saat kita diminta memberikan satu penjelasan tentang hal tersebut, kita bisa dengan mudah tinggal memungutnya dari keranjang kita.

Akan tetapi lain dengan pemahaman. Rasanya, bagi saya pemahaman itu membutuhkan pengalaman. Sebagaimana meng-alami, pengalaman di sini lebih berarti kepada sebagaimana dekat kita dengan objek pengertian yang dimaksud. Dan begitu kita merasa dekat dengan sesuatu, sesuatu itu menjadi seperti hidup dalam hati, serta menjadikan kita seolah-olah (atau bahkan pernah) mengalaminya. Dengan demikian, seberapa dekat sih, kita dengan kata “single parent” akan menentukan kualitas pemahaman kita kepada kata tersebut.

Dan kalau kita cermat, makin berkualitas pemahaman kita tentang suatu hal, maka kita akan menyampaikannya dengan sepenuh hati dan perasaan. Mungkin bisa dengan semangat yang berapi-api, menyampaikannya dengan bahasa yang tegas tapi santun, atau bahkan dengan suara yang tergetar dan diiringi mata yang berkaca-kaca.

Dengan pengertian, kita mendapatkan pengetahuan atas sesuatu.

Tapi dengan pemahaman, kita merasakan empati sekaligus mendapatkan ilmu.

***

Bahkan saya mesti mencubit kedua pipi, untuk membuat saya sadar akan fakta yang saya hadapi. Begitulah yang saya rasakan, saat sahabat baru saya bilang bahwa dia adalah seorang single parent!

Reaksi pertama saya adalah menyangkalnya. Karena sepanjang usia saya, belum pernah sekalipun saya berteman dan bersahabat dengan seorang single parent. Bagi saya selama ini, single parent itu seperti pulau Cayman bagi seorang Jawa yang tinggal di pulau Jawa. Single parent itu, meskipun eksis, ia seperti satu wilayah lain yang berdiri jauh dari lingkaran tempat tinggal.

Iya. Single parent.

Dan tiba-tiba saja kata “single parent” yang telah saya ketahui artinya itu mempunyai makna yang sangat berbeda. Pipi kanan dan pipi kiri saya terasa ditampar. Perasaan kesepian, perasaan seolah-olah menanggung beban berat seorang diri, menghadapi pertanyaan-pertanyaan anak yang mungkin menyinggung wilayah sensitif dan harus memberikan penjelasan kepadanya, mengatasi kenakalan-kenakalan yang dilakukannya, bagaimana cara menghidupi anak-anak seorang diri sampai mereka mandiri, tiadanya partner atau pasangan yang setara dan bisa diajak berbagi…, menyerang dan menghantam saya dari segala posisi!

***

“Ketika wajah ini penat memikirkan dunia, maka berwudhulah,,,
Ketika tangan ini letih menggapai cita-cita maka bertakbirlah;
Ketika pundak tak kuasa memikul amanah, maka bersujudlah,,,
Ketika gelombang kehidupan menghantam dan membuat tubuh ini jatuh tersungkur, maka ikhlaskanlah semua dan mendekatlah kepada-Nya;

Agar tunduk di saat yang lain bediri angkuh,
Agar teguh di saat yang lain runtuh,
Agar tegar di saat yang lain terlempar keluar…

Yaa Ilaahi Rabbi,
Kuatkanlah aku untuk dapat terus berjuang…untuk dapat terus berjalan…
Di atas jalan yang Engkau ridhai…anugerahkanlah aku hati yang senantiasa ikhlas dan ridha atas segala ketetapan-ketetapanMu,

Amin ya Rabbal’alamiin.. “

Saya membaca note sahabat saya di atas setelah tahu bahwa dia seorang single parent. Dan sungguh, rasanya note itu menjadi sangat berbunyi dan memberikan aura yang sangat berbeda!

***

Sekiranya saja para single parent itu dikaruniai anak yang mempunyai kapasitas dan kecerdasan emosi cemerlang, sehingga sanggup memahami dan berempati sesuai dengan level pembicaraan dan emosi orang tua tunggalnya, mungkin para single parent itu bisa agak sedikit ringan bebannya. Akan tetapi meski seorang anak bisa diajak bicara dan mungkin paham maksud yang diutarakan orang tua tunggalnya, tetap lain rasanya, jika berbagi perasaan itu dicurahkan kepada pasangan hidup.

karna…
berbagi perasaan dengan pasangan hidup itu,
rasanya gimanaa gitu…

(6 ramadhan 1430, khusus untuk seorang sahabat, yang baru belakangan saya ketahui beliau seorang single parent!)

(Illustrasi Foto : http://www.onechildhood.org)

cinta sunyi

•August 23, 2009 • Leave a Comment

quitness
kepadamu
kupersembahkan
cinta sunyi
yang menampung
degup gemuruh jantung
yang menahan
pedih sayatan
sembilu rindu

kepadamu
kupersembahkan
cinta sunyi
yang bilangan suaranya meringkuk
terpenjara dalam mulut yang terkunci

kepadamu
kupersembahkan
cinta sunyi
yang sinaran cahyanya
menundukkan pandangan
sampai netra tak lagi mengindra
kecuali aura pesona yang kau punya!

kepadamu
kupersembahkan
cinta sunyi
hingga tak lagi tergetar gendang telingaku
kecuali oleh desahmu…

cinta sunyi
kupersembahkan
kepadamu
yang meraung
memanggil angin sepi
hingga semuanya musnah

dan sunyi…

karna sungguh hanya engkaulah
selanjutnya…
yang satu-satunya hadir!

(2 ramadhan 1430)

panjat pinang

•August 17, 2009 • Leave a Comment

panjat pinang
ada panjat pinang
ada balap karung
ada makan kerupuk

smuanya riuh gembira…
meski smuanya mungkin tak sepenuhnya tau
apa arti kata
MERDEKA!

(17 agustus 09, smoga smuanya memanjatkan syukur!)

 
%d bloggers like this: